Lewati ke konten
Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:17
INFORMASI
8. News, Views & Advertorial

Pemprov Jabar Kerahkan 25 Ribu Mahasiswa untuk Kurangi 1.000 Ton Sampah Bandung Raya per Hari

admin12 Oktober 20262 menit baca30 dilihat
sampah Bandung Raya
Banner Iklan
728 x 90

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana melibatkan 25 ribu mahasiswa guna mengatasi persoalan sampah di wilayah Bandung Raya. Program pendampingan langsung kepada masyarakat ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan mulai Oktober 2026 dengan target pengurangan timbulan sampah mencapai 1.000 ton per hari sebelum dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir Sarimukti.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai perguruan tinggi. Para mahasiswa yang diterjunkan akan berfokus memberikan edukasi kepada warga agar mulai memilah dan mengurangi sampah secara mandiri dari lingkungan rumah tangga.

Program pendampingan pengelolaan sampah ini rencananya akan mencakup sekitar 52 kecamatan di kawasan Bandung Raya. Sebagai bentuk dukungan akademik, para mahasiswa yang berpartisipasi akan mendapatkan konversi kegiatan setara 10 satuan kredit semester. Mereka juga akan dibekali dengan modul khusus serta perangkat digital sebagai panduan kerja di lapangan.

Inisiatif ini merupakan pengembangan dari kegiatan percontohan yang sebelumnya telah diuji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Pada uji coba tersebut, sekitar 500 mahasiswa dilibatkan selama tiga bulan untuk mendampingi warga setempat dalam mengelola sampah dari sumbernya. Evaluasi awal menunjukkan adanya penurunan timbulan sampah sekitar 20 persen serta peningkatan tingkat pemilahan oleh masyarakat hingga dua kali lipat.

Secara keseluruhan, estimasi timbulan sampah di kawasan Bandung Raya mencapai sekitar 5.000 ton setiap hari. Melalui pengerahan mahasiswa ini, pemerintah menargetkan pemotongan volume sampah sebesar 20 persen atau setara 1.000 ton per hari. Dengan demikian, beban penanganan di TPA Sarimukti diharapkan bisa berkurang secara signifikan.

Selain mengandalkan peran mahasiswa, pemerintah provinsi juga mendorong optimalisasi fasilitas pengolahan yang sudah ada di tingkat kabupaten dan kota. Fasilitas tersebut mencakup tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle, fasilitas pengomposan, pengolahan menjadi bahan bakar alternatif melalui refuse-derived fuel, hingga pemanfaatan maggot untuk sampah organik.

Menurut Herman, tantangan utama dalam pemanfaatan fasilitas pengolahan selama ini adalah kondisi sampah yang masih tercampur saat tiba di lokasi. Oleh karena itu, edukasi pemilahan sejak dari tingkat rumah tangga sangat krusial agar proses lanjutan di fasilitas pengolahan dapat berjalan lebih efektif sesuai karakteristik sampah.

Diolah untuk WartaIT. Sumber: Lintas Priangan. Penulis asli: Abu Ayyub. Artikel ini diolah ulang dengan bantuan AI.

Banner Iklan
728 x 90

admin

Penulis konten digital dan jurnalis teknologi di AhzaPress Pro.

Berita SebelumnyaPolisi Amankan 27 Batang Ganja di Atap Rumah Kawasan Regol Bandung
Banner Iklan
728 x 90

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ID EN