Realisasi anggaran hibah untuk pembinaan cabang olahraga di Kota Banjar menuai tanda tanya dari kalangan pemerhati olahraga menjelang bergulirnya Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat 2026. Forum Pemerhati Olahraga Kota Banjar menyoroti penggunaan dana sekitar Rp180 juta yang tercatat di dalam dokumen monitoring dan evaluasi Dinas Pemuda dan Olahraga. Berdasarkan dokumen tersebut, dana itu dialokasikan ke dalam dua gelombang pencairan, yakni sekitar Rp100 juta pada tahap pertama dan kurang lebih Rp80 juta pada tahap berikutnya. Forum tersebut menilai transparansi ihwal realisasi serta pemanfaatan dana bagi para atlet dan cabang olahraga sangat diperlukan agar persiapan menghadapi kompetisi tidak terganggu. Perwakilan Forum Pemerhati Olahraga Kota Banjar yang juga menjabat sebagai Ketua Pengcab PASI Kota Banjar, Aan Setiana, menyampaikan bahwa persoalan ini mendesak untuk mendapat perhatian serius demi kelangsungan persiapan atlet. Salah satu pos anggaran yang paling dipertanyakan ialah pengadaan fasilitas serta peralatan latihan yang tercatat senilai Rp70 juta pada tahap pertama dan Rp42 juta pada tahap kedua, sehingga totalnya mencapai Rp112 juta. Menurut Aan, pihaknya belum pernah melihat wujud nyata pengadaan fasilitas tersebut maupun menerima penjelasan terkait mekanisme penyalurannya. Selain itu, alokasi dana operasional cabor sebesar Rp6 juta pada tahap pertama dan Rp3 juta pada tahap kedua juga disorot karena pengurus cabor merasa tidak pernah diminta menyerahkan laporan pertanggungjawaban penggunaannya. Komponen lain yang turut dipertanyakan mencakup dana suplemen atlet beserta tes kesehatan sebesar Rp8 juta pada tahap kedua, serta anggaran uji tanding atau try out senilai Rp30 juta pada tahap pertama dan Rp35 juta pada tahap kedua. Padahal, uji tanding memegang peranan krusial bagi atlet untuk mengukur kemampuan sekaligus mematangkan strategi sebelum bertanding. Isu ini menjadi kian penting mengingat sekitar 15 cabang olahraga di Kota Banjar dijadwalkan ambil bagian dalam ajang Porprov Jawa Barat 2026, dengan sejumlah pertandingan yang rencananya dimulai pada 10 November mendatang di berbagai lokasi. Menghadapi kompetisi tersebut, kebutuhan atlet dinilai semakin meningkat, mulai dari sarana latihan, akomodasi transportasi, hingga jam terbang melalui uji tanding. Oleh karena itu, kejelasan dukungan pendanaan sangat menentukan efektivitas persiapan para atlet. Aan berharap fungsi pengawasan dan evaluasi dari instansi terkait tidak sekadar berfokus pada kelengkapan administrasi semata, melainkan benar-benar membuktikan kesesuaian realisasi di lapangan. Ia juga mempertanyakan mekanisme penyaluran hibah yang dibagi menjadi dua tahap, mengingat pertanggungjawaban dana pertama semestinya tuntas sebelum tahap berikutnya dicairkan. Guna mendapatkan titik terang, Forum Pemerhati Olahraga Kota Banjar berencana meminta klarifikasi resmi kepada Inspektorat Daerah Kota Banjar dan membuka kemungkinan menjalin komunikasi dengan aparat penegak hukum apabila ditemukan indikasi masalah yang memerlukan penindakan lebih lanjut. Langkah ini ditegaskan semata-mata demi mendorong transparansi pengelolaan anggaran publik dan memastikan Pemerintah Kota Banjar melalui dinas terkait serta KONI memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat olahraga.
Diolah News Brige untuk WartaIT. Sumber: Infopriangan.com.
